Tampilkan postingan dengan label alam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label alam. Tampilkan semua postingan

Senin, 18 Juni 2012

Gua Susu dan Gua Taman di TN Gunung Rinjani


Cerita berikut ini adalah mengenai 2 buah Gua yang bernama Gua Susu dan Gua Taman yang ada di Taman Nasional Gunung Rinjani. Kebetulan saat pendakian Rinjani via Torean kemarin saya berkesempatan mampir di keduanya.

pemandangan saat perjalanan menuju Gua Susu

Pertama adalah Gua Susu. Gua ini telah lama saya dengar namanya, tapi baru kemarin (pada akhirnya) berkesempatan melihat seperti apa "si Susu" ini sebenarnya. Gua ini terletak kurang lebih 1 km dari Danau Segara Anak dengan mengikuti jalur Torean. Pertanda jalan menuju gua ini adalah sebuah persimpangan (pertigaan) dimana terdapat sebuah kolam air panas. Banyak pendaki yang lewat atau memang berniat bermalam di tempat ini memanfaatkan kolam ini dari sekedar untuk relaksasi kaki sampai dengan pengobatan. Apa yang membuat kolam ini terlihat unik dan dramatis adalah buih-buih yang muncul dari dasar di bagian tengah kolam, sekilas membuat kolam ini terlihat mendidih airnya dan berkesan horor untuk dipakai berendam, tapi toh setelah dicoba everything's fine termasuk dibagian kolam yang "mendidih" itu, yah walaupun dengan sedikit waktu untuk penyesuaian juga. 
Kolam air panas di persimpangan jalan menuju Gua Susu

Dari persimpangan jalan itu, Gua Susu tinggal berjarak kurang lebih 300 meter dengan menempuh jalan tersendiri, Gua Susu dapat ditemui dengan mudah karena dia terletak di ujung jalan alias jalan buntu. Penampakannya adalah sebuah tebing dengan beberapa mulut gua yang bertingkat-tingkat yang beberapa mulut gua tersebut mengeluarkan air dari dalamnya. Namun Gua Susu dapat dikenali dari warna mulut gua yang kekuningan, hal ini dikarenakan endapan belerang yang dikandung dalam air panas yang muncul di dalam Gua. Gua bagian atasnya yang juga mengalirkan air tidak berwarna sama karena yang dialirkan adalah air biasa (dingin).

Di depan mulut Gua Susu

Memasuki Gua Susu sebaiknya dilakukan tanpa alas kaki, tak perlu khawatir dengan licinnya dasar Gua, karena endapan belerang ini membentuk suatu relief yang memudahkan kaki untuk memijaknya dan jauh dari sifat licin. Di Bagian dalam Gua Susu kita akan menemui suatu sumber mata air yang telah disalurkan melalui sebuah pipa, para penduduk lokal yang sering mandi air panas disini yang membuatkannya. Jika kita langsung menyentuhkan kulit di air dari pipa ini, kemungkinan rasanya langsung "NYOSS", maka ada baiknya mengambil waktu sejenak untuk membiarkan kulit beradaptasi terlebih dahulu. Terdapat sebuah ruang yang agak luas di bawah pipa ini, sehingga 5-6 orang bisa duduk bersama sambil bercengkrama menikmati air panasnya. Lebih dalam lagi, Gua akan menyempit dan terdapat suatu ruang yang agak diatas tempat "duduk-duduk" tadi, perlu menggunakan senter untuk masuk ke bagian gua ini. Saya mencoba masuk ruangan ini karena direkomendasikan oleh orang-orang yang duduk di bawah pipa air panas tadi, mereka bilang diatas ada SAUNA. Sayangnya karena uap air panas yang kuat di ruang dalam Gua maka saya tidak bisa mengambil gambar bagian dalam gua.


Mulut Gua Susu

Penasaran saya pun mencobanya, namun ternyata harus menunggu sejenak karena harus antri menunggu 2 orang bapak yang sedang "bersauna" di dalamnya. Setelah tiba giliran saya, dengan hati-hati dalam pijakan dan menjaga kepala agar tidak terantuk relief gua, maka saya sampai di tempat sauna tersebut. Ternyata tempat tersebut hanya muat untuk 2 orang saja, terdapat suatu tempat untuk menjadi diduduki dan satu orang lainnya harus berdiri. Di tempat saya duduk tersebut, kita bisa menikmati uap panas yang berhembus dari dinding-dinding gua, dan jika kita mencoba berdiri, maka uap akan semakin panas, dan kepala rasanya seperti dikukus :) Tidak ada jalan lebih jauh lagi, rupanya tempat sauna itu adalah ujung gua. Mungkin sekitar 3 menit saya bersauna di tempat itu, sambil membayangkan ternyata Gua Susu tidak sebesar seperti yang dibayangkan selama ini. 

Dari percakapan dengan sesama penikmat air panas disitu, saya memperoleh rekomendasi untuk mampir ke bagian dasar Gua dimana juga terdapat kolam kecil berair hangat dan mencoba untuk menghisap air yang menetes dari stalagtitnya. Konon katanya air tersebut berasa seperti susu, walau pada saat saya mencobanya saya tidak merasakan demikian, ya berasa seperti air biasa. Dari situ kemungkinan mengapa Gua ini bernama Gua Susu. Lagipula "puting" susu yang terdapat di bagian atas gua (stalagtit) banyak yang patah, mungkin karena para "penghisapnya" agak hardcore ya, dan mungkin juga karena patah, saya jadi tidak bisa menikmati "susu" seperti yang diceritakan orang-orang. 

Selanjutnya adalah Gua Taman, Gua ini terletak lebih ke bawah lagi dibandingkan dengan Gua Susu (dari Danau Segara Anak), juga melalui sebuah persimpangan jalan untuk mencapainya. Pertandanya adalah, sebuah tangga vertikal dari kayu yang akan membantu kita menuruni sebuah tebing kecil dan sebuah sungai kecil berair hangat. Dari situ akan ada jalan menurun, kira-kira 100 meter menempuh jalan menurun itu kita dapat menjumpai Gua Taman. 

Kesan pertama dari Gua ini adalah penampakan sekelilingnya yang agak "spooky", banyak kain putih digantungkan di sekitar mulut Gua, dan dari info yang didapat, hal ini dikarenakan Gua Taman tersebut memang sering digunakan untuk tempat peribadatan suatu golongan orang.

Suasana di luar Gua Taman

Kain-kain putih bergantungan di sekitar Gua Taman


Gua Taman dapat dimasuki melalui sebuah mulut gua yang sangat kecil, sehingga hanya bisa dilewati dengan cara merayap. 

Mulut Gua Taman

Merayap untuk keluar - masuk Gua

Bagian dalam Gua Taman adalah sebuah ruangan yang cukup besar, dan saya tidak tahu apakah kita bisa masuk lebih dalam lagi. Tidak ada air panas didalam gua ini, ada satu genangan air kecil, namun berair dingin. Bau dupa dan sesaji menyeruak ketika memasuki ruang ini. Terdapat suatu mitos bahwa untuk memasuki gua ini, berapapun ukuran badan orang tersebut, tetap bisa masuk lewat pintu masuk yang menurut saya sangat kecil ini. Saya tidak bisa membuktikannya karena tidak membawa teman yang berbadan "cukup" untuk bisa membuktikannya.


Bagian dalam Gua Taman


Genangan air kecil (dingin) di dalam Gua


2 Buah Gua ini hanyalah salah dua dari beberapa (mungkin juga banyak) nama-nama gua yang saya dengar dari percakapan dengan penduduk lokal, Rinjani memang menyediakan banyak Gua dan Air Terjun untuk bisa dikunjungi. Namun memang tidak kesemuanya memiliki akses yang mudah untuk dikunjungi. Lain waktu lain cerita lain pula tempat untuk diceritakan, selama ada umur, selalu ada sesuatu untuk diceritakan. 

Salam :)

Senin, 02 April 2012

2 Malam di Gunung Kencana

Gunung Kencana adalah sebuah nama bagiku, muncul entah dari mana, untuk kemudian pergi entah kemana. Namun, dia memberi suatu kesan atas kepergiannya. Aku sempat 2 malam "singgah" bermalam di kawasan tersebut. Sedikit gambaran tentangnya, Gunung Kencana sebetulnya bukanlah gunung, namun berfisik sebagai sebuah bukit dengan vegetasi hutan hujan yang rapat dan padat. Terletak di kawasan perkebunan teh milik salah satu perusahaan BUMN, jika dari Jakarta, maka kita harus mengambil jalur puncak ke arah Cianjur setelah melewati Masjid At-Taawun, tak jauh dari sana akan ada baliho besar Jasa Raharja dan disitulah kita terakhir berkendara umum, selebihnya bisa ditempuh dengan berjalan kaki melintasi perkebunan teh menuju ke tempat perkemahan. Di tempat ini juga terdapat sebuah obyek wisata yang bernama Telaga Warna, yang kemarin aku tidak berkesempatan untuk mengunjunginya. Terdapat dua bukit di dalam kawasan ini, yaitu disebut Gunung Luhur dan Gunung Kencana. Keduanya tertutupi oleh lebatnya hijau rimbun pepohonan. Sungai-sungai kecil nan jernih banyak mengalir di sela-sela perjalanan, memungkinkan kita untuk singgah sejenak untuk melepas dahaga. Perjalanan kemarin kulakukan bersama-sama dengan rombongan yang berjumlah tak kurang dari 50 orang, Walaupun aku menyusul sehari kemudian menuju lokasi. Ada yang berkesan saat menikmati pagi pertama di kawasan ini, yaitu pemandangan jelas dari 3 gunung yang berada di dekatnya, yaitu Gunung Gede dengan kawahnya yang menakjubkan, Gunung Pangrango, dan Gunung Salak agak di kejauhan sana. Pada malam pertama aku camping di Gunung Luhur, dan pada malam kedua di Gunung Kencana. Sampai dengan saat meninggalkan lokasi, cuaca sedang sangat bersahabat, cerah dan berawan. Hampir tak pernah ada tanda-tanda akan hujan, padahal saat itu tren cuaca di lokasi sedang menunjukkan modus kearah "basah". Satu hal yang berkesan sangat dari kawasan ini, adalah adanya kemungkinan bahwa mata air jernih yang mengalir di banyak titik ini adalah mata air bagi sungai ciliwung yang hitam pekat mengaliri Jakarta. Terbayang juga bagaimana parahnya proses degradasi kualitas air yang terjadi entah karena faktor apapun itu, sampai-sampai bisa menjadi sekelam kualitas air Sungai Ciliwung (dan juga sungai-sungai lain yang ada di Jakarta). Kawasan Gunung Kencana ini sendiri sepanjang perjalananku disana masih bisa dibilang perawan, karena sampah plastik sangat teramat jarang bisa ditemui, aku cuma berharap bahwa hal ini terjadi bukan karena kawasan ini masih jarang dijamah manusia, tapi karena kualitas si manusia yang datang / pergi itu sendiri yang sudah sangat berwawasan lingkungan. Akhir-akhir ini, kawasan Gunung Kencana menjadi lokasi favorit bagi para organisasi pecinta alam untuk mengadakan malam inisiasi, penggojlokan, pelantikan anggota baru atau apalah nama dan maksud tujuannya. Hal ini dikarenakan alasan kepraktisan lokasi yang tersedia, sehingga tidak perlu lagi bersusah payah merencanakan sebuah acara yang super-repot di gunung-gunung "sungguhan". Kemarin pada saat yang bersamaan terdapat paling tidak 2 Mapala lain yang sedang berada di lokasi untuk kegiatannya masing-masing. Hal ini pastinya menimbulkan adanya kekhawatiran tersendiri terhadap adanya ancaman degradasi lingkungan yang muncul, mengingat kualitas Mapala yang hadir berbeda-beda, atau mungkin bukan Mapala yang hadir melainkan hanya sekelompok orang yang datang untuk camping dengan segala kecerobohannya (ala orang kota) yang pada akhirnya memberikan dampak yang tidak bagus bagi lingkungan. Seiring perjalanan menuruni lokasi kembali ke kota, benakku berisi banyak pertanyaan dan kegelisahan karenanya.