Tampilkan postingan dengan label Perjalanan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Perjalanan. Tampilkan semua postingan

Kamis, 03 Januari 2013

BIL 5 menit OK vs SOETTA 25 menit Not OK


Antara Bandara Internasional Lombok (BIL) dengan  Bandara Soekarno-Hatta (Soetta) tentu terdapat sebuah garis perbedaan yang jelas. Salah satu perbedaan dalam hal kebijakan toleransi check-in penerbangan kedua bandara tersebut yang ingin gw tuangkan dalam tulisan ini. 

Tersebutlah pada suatu hari, seorang Gw sedang harap-harap cemas dalam sebuah mobil travel yang akan membawa gw menuju BIL. Bagaimana gak cemas, kalau dari Mataram saja travel tersebut setelah menunaikan kewajibannya untuk jemput sana-sini (maklum travel) baru otw ke BIL kurang dari 1 jam sebelum jadwal pesawat takeoff. Bener aja, sampe bandara jarak waktu gw dan take-off cuma 5 menit! Ah, udah sempat putus asa juga pas sampe di BIL, tapi udah kepalang tanggung sampe bandara, udah keluar duit travel pula, akhirnya coba aja masuk ke counter check-in, ajaibnya BISA!!!

Nah kisah diatas langsung aja gw cut, sekarang langsung kita menuju bandara Soetta tercinta yang terkenal super cibuk. Alkisah kemarin gw dijadwalkan terbang pukul 20.00 WIB, karenanya gw mencoba berangkat dari rumah pukul 17.00 WIB. 3 jam gw pikir udah lebih dari cukup untuk menjangkau Soetta dari terminal Rawamangun dengan menggunakan bis Damri. Ternyata astaga saudara-saudara, mulai masuk tol semua ketenangan berubah menjadi kegelisahan pekat. Macet tiada tara terjadi diikuti dengan berjalan padat mensiput (saking leletnya). Seumur-umur gw menggunakan jasa penerbangan via Soetta alokasi 2-2,5 jam biasanya cukup, ini udah gw kasih 3 jam ternyata... sampai di bandara pukul 19.35 dan hasilnya?? ditolak check-in dengan alasan terlambat 5 menit, dan sudah dibuat MANIFESTO. 

Yah, entah kebijakan apa yang ada di kedua bandara tersebut sehingga terjadi sebuah perbedaan perlakuan atas konsumen-konsumen yang tidak beruntung macam gw ini. Alasan pasti ada, biarpun alasan itu benar adanya, dibuat-buat, atau hanya sekedar sebuah bentuk kemalasan bertindak lebih. Tapi sudahlah, Gusti Allah ora sare.

Senin, 31 Desember 2012

Perjalanan Panjang Akhir Tahun


Mungkin sebagian dari kalian lebih suka menghabiskan sebagian waktu kalian berada di suatu tempat dimana banyak orang berada disekelilingnya. Ada juga yang memilih untuk menyendiri dalam suatu kesunyian. Apapun pilihannya, dunia menyediakan tempat bagi kedua pilihan tersebut. Termasuk untuk pilihan kedua. Dalam sebuah jalur perjalanan Dampit menuju Lumajang via Piket-Nol ba'da maghrib, hiruk pikuk dunia seperti telah ditarik dari peredarannya. Mungkin turunnya hujan sedari siang hingga beberapa kali saat ku beperjalanan, yang membuatku beberapa kali menepi untuk sekedar berteduh dan menikmati suasana, turut menyumbang sebagian besar porsi kesunyian dunia.

Hanya suara serangga malam dan hujan yang mendominasi indera pendengaranku, dengan sesekali bunyi kendaraan berlalu didepanku menghadirkan sebuah kegaduhan dalam tempo sekejap untuk kemudian terserap kembali dengan cepat kedalam gelapnya kesunyian malam. Udara dingin mulai mencoba untuk mendominasi suhu tubuhku. Jalur ini pernah kutempuh 2 tahun sebelumnya dalam perjalanan Lombok menuju Jakarta, sehingga di beberapa titik tempat, seperti menceritakan sebuah kisah keintiman yang pernah timbul antara aku dengan tempat-tempat sunyi ini.

Hujan turun selalu hanya dalam waktu yang tidak lama, untuk mengizinkanku kembali beperjalanan untuk kemudian menyuruhkan kembali menepi dan kemudian hilang kembali. Demikianlah siklus hujan malam itu menemani perjalananku. Di tengah absennya hujan, bulan waxing gibbous - setengah lingkaran memberikan sinarnya ketika mengintip dari balik tabir awan memberikan siluet cerah kepada Gunung Semeru disisi utara. Begitu tenang sang Mahameru saat itu, sangat jauh berbeda ketika kulihat dari kotak televisi ketika memberitakan murka sang gunung. Jalanan berliku di gelap malam, sesekali diterangi oleh cahaya truk dan mobil yang berjalan berlawanan arah. Kota-kota kecamatan kecil juga memberi cahaya ketika aku melewatinya, setelah itu kembali gelap, kembali sunyi, dan kembali dingin. Warung kecil di pinggir jalan juga memberikan setitik terang bagi malam ditengah rimba Piket Nol.

Setiba di kota Lumajang, situasi ternyata berubah total. Kota yang masih dalam suasana pesta perayaan hari jadinya tanggal 15 Desember kemarin. Harjalu (Hari Jadi Lumajang), masih terlihat dirayakan oleh para penduduknya, 3 buah mobil dengan speaker besar yang tak henti-hentinya menghadirkan kebisingan musik-musik dari dangdut sampai PSY-gangnam style kepada telinga para penduduk yang sedang menikmati malam di sepanjang jalan. Aku sendiri bergegas langsung melewatinya menuju kesuatu tempat dimana kesunyian lain akan memelukku.

Beberapa tempat memang masih (sangat) sepi

Minggu, 01 Januari 2012

terbang di akhir tahun

Perjalanan udara pada malam tahun baru memberikan sebuah pemandangan baru yang menakjubkan, di atas langit jakarta menjelang mendarat. Aku terpesona oleh sebuah sajian "banjir" kembang api yang berserakan di di langit jakarta dengan pemandangan bird eye's view. Sejauh ini mungkin aku sudah takjub dengan pemandangan kembang api yang bersaut-sautan disana-sini yang kulihat dari posisiku diatas bumi. Namun, dengan posisi pandang dari atas udara dengan range pandang yang jauh lebih luas, serta jumlah kembang api yang meledak diudara yang seakan tidak memberiku kesempatan sekejabpun untuk bernafas. Meletus disini, belum selesai sisa cahayanya habis, disebelah sana sudah meletus tanpa sempat kulihat saat meluncurnya, dan saat yang baru ini meletus menghasilkan cahaya warna-warni yang indah, terlihat tak jauh dari situ sebuah kembang api diluncurkan dari suatu perkampungan (tentu sesuai dengan kelasnya) seakan saling jawab-menjawab satu sama lain. Hal ini tentunya membuatku menarik beberapa kesimpulan tentang Jakarta :
1. Ternyata pada malam tahun baru (saat itu pukul 19.30 WIB) walaupun sebelum tengah malam, langit jakarta telah sangat meriah oleh kembang api jauh dalam skala yang lebih besar dari yang selama ini pernah kubayangkan.
2. Penduduk jakarta ternyata memang sangat tidak bisa diremehkan dalam hal kuantitas, maksudnya ya, sangat banyak. Kembang api yang meluncur disana-sini tentu saja menggambarkan aktivitas beberapa kecil bagian penduduk ibukota ini, namun itu belum semuanya.
3. Berapa rupiah omzet perkembangapian yang dihasilkan pada malam itu, mengingat dilangit meletus dalam jumlah yang sangat banyak, perputaran uang pada malam itu tergambar jelas ukurannya "hanya" dari kuantitas kembang api. Terbayang, ternyata penduduk jakarta juga ga miskin-miskin amat.
4. Semuanya berpesta malam itu, mulai dari yang kaya sampai yang miskin, yang elit sampai yang kampung, yang megah sampai yang dimegah-megahkan, malam tahun baru memang lebih dari sekedar jarum jam yang berjalan melewati pukul 12. Hal ini jauh dimulai sebelum detik-detik 'menentukan' itu.

Malam itu bermilyar uang dibakar untuk kembang api (dan belum untuk hal lain yang sifatnya selebrasi), tentu aku tidak akan mengatakan hal-hal klise tentang kemana sebaiknya uang itu dialirkan. Namun yang kulihat, dan kudengar sepanjang perjalanan belumlah mencapai klimaksnya, namun sudah cukup membuatku terpana oleh hiruk-pikuk pesta rakyat seluruh planet bumi teritori jakarta. Mungkin pada pukul 12 (bukan mungkin, tapi pastinya) adalah puncak dari pesta dengan kegilaan yang berlipat ganda dari yang telah kusaksikan, namun aku tidak menyaksikannya karena aku tertidur kelelahan saat terjadi pergantian tahun.