Tampilkan postingan dengan label mikirin idup. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label mikirin idup. Tampilkan semua postingan

Kamis, 19 Mei 2011

Kue 24 Jam


Sulitnya membagi waktu disaat situasi memang sedang tidak sesuai dengan yang kita inginkan. Waktu yang seluruh manusia diberikan dalam sehari-semalam 1x24 jam dengan sama rata sama rata oleh Tuhan adalah sangu alias modal untuk bisa dikelola dengan sebaik-baiknya. Makanya itu, ini semua kembali kepada sebuah frase yang bernama 'manajemen waktu'. Bukan suatu mata kuliah wajib maupun non-wajib yang diajarkan di perguruan tinggi manapun, tapi harus diakui bahwa MW (manajemen waktu) adalah sebuah disiplin ilmu esensial bagi setiap orang. Terutama bagi yang dilahirkan tidak dengan bergelimangan harta layaknya jeung Paris Hilton (dia lagi..)

Saya adalah salah satunya yang mengalami kesulitan dalam memilah-milah 'kue' waktu tersebut untuk bisa dibagikan secara adil kepada seluruh stakeholder kehidupan saya. Semua selalu terbentur dalam sebuah situasi yang tidak diinginkan, keterbatasan waktu yang seandainya luangpun, tubuh dan jiwa saya menuntut dengan keras untuk digunakan untuk slowing the pace down alias santai sejenak. Salah sayakah? yah mungkin saja, karena sangat mungkin terjadi di suatu sisi bumi lain ada individu-individu yang bisa memaksa tubuh dan jiwanya untuk memiliki ketahanan bekerja dan berpikir keras dengan istirahat alias ngasoh yang minimal. Yah adalah hak prerogatif setiap insan manusia untuk memutuskan bagian-bagian kue 24 jamnya terbagi seperti apa. Yang pasti kalau saya pribadi terkadang merasa terlalu tua dan lelah untuk 'berlari'.

BB

Terpikir waktu gw mau bayar obat panadol (masih di 7eleven) di kasir, gw bareng n berpapasan sama seorang pria 30an awal (sepertinya) dengan gaya yang kalau boleh gw tebak, dia bekerja di sektor swasta kalau ga pengusaha ya pegawai tingkat manajer deh. Dengan teman wanita, pacar, atau istri disebelahnya yang sibuk dengan BB-nya sang pria yang sedang membayarpun tak lama mengeluarkan BBnya dan hanyut didalamnya sampai proses pembayaran barang-barang belanjaannya menjadi tumbal karenanya (tersendat maksudnya).

Gw mikir, dengan persenjataan gw 2 buah HP Nokia yang bisa dibilang berfitur sangat dasar (sms dan telpon) dengan segala keterbatasannya (itupun hp satunya boleh minjem dari adek gw bwt memfasilitasi telpon-telponan sama si Dia), jelas gw bukan tandingan si Oom Parlente satu

ini. Lalu timbul naluri manusia gw, saat giliran gw membayar, apa perlu gw juga ber BB an seperti si Oom tadi? kalau dari segi kebutuhan sih rasanya gw ngga / atau belum perlu. Tapi mungkinkah kebutuhan itu muncul saat gw memilikinya atau dengan kalimat lain perasaan butuh muncul setelah gw memiliki BB atau minimal smart phone jenis lainnya?

Agak mengusik dan mengganjal di kepala sih pertanyaan itu, tapi sekembalinya ku kemeja dimana si Dia sedang menunggu obat yang gw beli (si Dia lagi sakit flu). Melihat wajahnya aku jadi bertekad... "Gw belum perlu gadget gitu-gituan, masalahnya uangnya dari mana tong? inget utanglu masih banyak"

Gula, Manis, & Kebahagiaan...


Hari ini tubuh gw mengalami over asupan gula, karena memang seharian porsi konsumsi gula gw diatas ambang normal. Sebenernya hal ini bukan suatu yang terlalu jadi perkara buat gw n body. Tapi pacar merangkap bini gw yang entah kenapa bakal berdiri di baris terdepan menentang semua affair gw sama semua yang berasa manis itu. Bercerita tentang hal yang manis, saat si Dia tadi dengan gegabahnya menambahkan sirup rasa ... (gw lupa) sebanyak 3 crott kedalam segelas teh tarik berukuran small (di 7eleven) pada akhirnya berakibat teh tarik gw menjadi oversweet dan kembali gw yang menjadi korban dengan gak bisa menikmati teh tarik sampe puas karena dibredel sama si Dia (dengan alasan takut nanti diabetes). Siapa yang salah coba? tapi terlepas dari konsumsi gula gw hari ini, sepanjang perjalanan pulang naik motor (si Jagur) gw jadi kepikiran, "sudah cukup maniskah hidup gw?"

Seperti apa sih hidup yang manis itu? seperti teh tarik gw barusan kah? seiring dengan molekul-molekul glukosa yang mulai berkelana di pembuluh darah gw, pikiran dan khayalan gw tiba-tiba melayang menuju Paris Hilton.



Jeung Paris ini terasa manis juga hidupnya (dari kacamata gw sebagai wong cilik), terlahir di sebuah keluarga yang memang sudah kaya raya, tak pernah ada kata mengeluh dalam hal materi, terasa manis sekali buat gw. Ngebayangin ke arah situ aja ga pernah (atau mungkin ga berani). Tapi apakah jeung paris sendiri sudah merasa manis dalam hidupnya? nah itu mungkin cuma Jeung Paris dan Tuhan yang tahu. Terlepas dari semua kontroversinya, Paris Hilton adalah manusia biasa yang juga mencari kebahagiaan. Karena mungkin secara materi dia semenjak lahir terpenuhi (overdosis malahan mungkin) dia merasa hal itu bukanlah suatu barometer kebahagiaan lagi, sehingga dia mencari jalan lain untuk membahagiakan dirinya sendiri, dengan perbuatan-perbuatan kontroversialnya mungkin. tapi kontroversial menurut siapa? menurut gw? iya lah. Lha wong kerjaannya cuma hura-hura, ngabisin duid, dsb dsb yang kalo gw pagi-pagi buka laptop konek internet n kebetulan baca berita tentangnya, malah bikin dada gw makin tipis karena keseringan dielusin.

Duid oh duid, mengapa engkau masih menjadi barometer kebahagiaan yang penting bagiku? tidak bisakah diriku ini disulap bertukar posisi dengan Jeung Paris. Mungkin saja dirinya akan lebih bahagia menjadi diriku seorang mahasiswa yang agak kadaluarsa dengan bebas berjalan-jalan kemana-mana tanpa paparazzi yang mengikuti yang mana juga keberadaannya cuma bikin risih.

Sebaliknya gw malahan seneng kalo ada yang ngikut-ngikutin poto-potoin gw. Hehe.. Tengah malem gini emang pikiran semakin liar melayang. Memikirkan Paris Hilton dengan segala kegemilangannya disana.

Ps. Btw menurut si Dia, jeung Paris juga berada di dalam posisi mencari kebahagiaan. Yang pada akhirnya gw simpulkan, manusia emang kalau belum berhenti bernafas yang namanya kebahagiaan itu tidak akan berhenti di satu titik. Makanya itu, tercipta kata "bersyukur" (klise dan kembali ke titik nol)