Senin, 28 November 2011

Jogging Sepenuh Jiwa di Pantai Barat Lombok

Di suatu hari saat ku berkesempatan menghabiskan waktu liburanku yang hampir 3 minggu di pulau lombok, aku sudah lama ingin mewujudkan impian (sorry ya kalo pemilihan katanya agak hiperbolik) lawas yang telah terpendam bertahun-tahun di benak ini.

Bukan sesuatu yang muluk, sangat sederhana, yaitu berlari / jogging di jalan aspal pesisir pantai lombok barat (antara Senggigi sampai Bangsal), tentu tidak sepanjang jalan itu akan kulahap dengan berlari, akan kuambil 2 titik start dan finish yang masuk akal dengan kekuatanku, dengan sajian pemandangan yang paling indah. Maka, saat kesempatan dan kemauan sedang dapat bekerjasama, akhirnya pada pukul 9 WITA pagi hari kupacu sepeda motor menuju pantai mangsit, setelah kuparkir di warung nasi pinggir pantai yang kebetulan kukenal pemiliknya, tanpa membuang waktu (karena hari sudah semakin panas) aku berjogging-ria menuju titik yang telah kutentukan, Pantai Malimbu. Jogging kali ini terasa sangat soulful, karena aku dikelilingi oleh bukit-bukit hijau dengan kesunyian maksimal, sesekali motor atau mobil lewat, sesudah itu sepi lagi. Kaki terus bekerja keras untuk membawa tubuh ini ke tempat tujuan, namun pikiran ini berkelana menuju zona-zona waktu tertentu, masa lampau untuk mengingat semua kejadian yang pernah kualami terutama saat setahun terakhir, zona khayal atau mungkin masa depan dimana semua mimpi masih terus kupupuk, dan sesekali kembali tersadar bahwa aku sedang berlari. Semua berputar silih berganti, merefresh otak dan jiwa yang penuh beban. Sungguh hal ini sulit kudapat saat berada di Jakarta atau kota besar lainnya, sehingga aku harus mencari cara untuk bisa melakukan soul surfing ketika berada di kota-kota besar tersebut, atau jiwaku akan berkarat. Sesekali aku mendengar dan membiarkan jiwaku mengeluarkan seluruh keluhan dan bebannya, sambil menyadari apa yang sedang kuhadapi. Dan pada akhirnya, seluruhnya berujung indah. Jiwa ku memang telah lama menginginkan untuk didengar. Saat itulah saatnya.

Bunyi serangga, lonceng sapi, dan gergaji mesin dikejauhan mengiringi jogging ku di pagi menjelang siang hari itu. Jalan aspal yang menyisiri pantai di barat pulau lombok ini terhampar mengikuti naik turunnya lekuk bukit dan lembah, yang berarti medan jogging yang kutempuh pun demikian adanya. Bisa ditebak, aku kewalahan menempuhnya, walau rasa lelah ini terseka oleh indahnya pemandangan pantai saat stamina ini telah nyaris terkuras untuk mendaki jalan menanjak sampai di punggung bukit, tetap saja, kaki pun ikut nyut-nyutan saat melewati trek menurun. Alhasil, joggingku berhasil melewati 2 bukit, dari 3 yang direncanakan. Ya, aku terhenti karena kelelahan di Desa Lendang Luar, padahal setelah desa ini adalah desa Malimbu, tempat finish yang seharusnya, tapi apa daya, tubuh ini sudah terlalu lama dimanja sehingga medan tempuh yang ada telah berhasil membuatnya berteriak ampun minta berhenti. Akupun segera memutar balik tepat sebelum bangunan Sekolah Dasar Negeri 1 Desa Lendang Luar, perjalanan kembali lebih banyak kutempuh dengan berjalan kaki, sekali lagi kukatakan bahwa tubuh ini (terutama bagian kaki) telah minta ampun minta dikasihani. Sampai di Pantai Mangsit aku beristirahat diatas dipan bambu sambil bercengkrama dengan orang-orang sekitar, dan pada akhirnya hampir saja tertidur saat rebahan menikmati masa liburan, terhembus sejuknya angin pantai dibawah rindangnya pepohonan, pagi menjelang siang pada hari itu memang teramat cerah.

Sekilas terbayang bahwa hari itu sebenarnya adalah hari kerja dimana normalnya akupun beraktifitas, tetapi tidak dengan hari ini. Teman-teman sedang sibuk dengan pekerjaannya di sana, aku tertidur diatas dipan ini. Tak lama ku terbangun dan bergegas kembali menuju Mataram.

Ngebut! karena hujan rintik segera mengguyur...

Sabtu, 26 November 2011

Nuansa Pagi Kota Kecilku

pagi yang mistis, kabut pagi nan dingin menyelimuti kotaku, membuatku teringat akan antusiasme pagi di kota ini saat awal ku menginjakkan kaki disini dahulu, seorang bapak paruh baya yang baru pindah di kota ini terlihat berjalan masuk kerumahnya baru saja menikmati suasana pagi baru olehnya. Persis seperti yang pernah kualami 6 tahun lalu, pagi hari yang selalu membawa semangat baru, pagi yang selalu membangunkanku mendahului terbitnya matahari, dan pagi yang selalu kuikuti dengan seksama kehadirannya di depan rumah dinas reot tempat dimana kenanganku tertinggal dengannya selama setahun lebih. Mengikuti perlahan kegelapan tersingkirkan oleh datangnya terang, sampai pada akhirnya lalu-lintas di tikungan kecil jalan depan rumah menjadi ramai, tanda harus bersiap beraktifitas harian.Saat ini aku telah meninggalkan kotaku ini, hidup memang tidak selalu sesuai dengan yang kita inginkan. Namun, pagi ini, kumerasakan aura yang telah lama hilang kehadirannya. Aku ingin merasakan aura ini dengan lebih sering, terbangun pagi di tempat baru, merasakannya lagi dan lagi.

Jumat, 11 November 2011

Menunggu waktu - midnight express - vegetarian temporer

Hehe.. kembali menulis ditengah malam, nyaris pukul 2 dini hari. Bukan tanpa sebab aku masih begadang sampai jam segini, karena tubuh ini sudah merengek untuk diistirahatkan dari beberapa jam yang lalu. Namun, sebuah request dari yang terkasih yang berada di pulau seberang sana memintaku untuk membangunkannya pukul 3 dini hari WITA (yang mana itu berarti pukul 2 WIB), sebentar lagi nih. Celakanya, permintaan lugu itu disampaikan pada pukul setengah 12 WIB. Yah, gagal deh tidur. Tapi ga papa, demi "Nyai" apapun akan kulakukan (termasuk menjual baju-celana.. :p)

Ada sedikit cerita tentang perenungan diri yang ingin dibagi di tulisan ini, FYI sekarang aku sedang menjalani Ujian Akhir Semester (UAS) 8, menandai hampir setahun ku menjalani lanjutan perkuliahan ini dari 2,5 tahun yang direncanakan. Beberapa mata kuliah lumayan bisa, beberapa setengah gagal, 1 disinyalir GATOT (tinggal berharap pada keberuntungan dan kebaikan Pak Dosen). Tapi hidup terus berjalan toh? Dan setelah beberapa lama mendengarkan musik dari sebuah band legendaris bernama Extreme, dan mengagumi sebuah lagu yang berjudul "midnight express", akhirnya setelah hampir 10 tahun sejak aku menemukan kaset bekasnya di Taman Martha Tiahahu (taman deket terminal Blok-M), aku berusaha mencoba memainkannya dengan gitar.

Cerita ini sebetulnya cukup mudah ditebak, dengan tingkat skill bergitar yang dari dulu pas-pasan (namun penuh ambisi), plus masa hiatus bergitar yang terjadi semenjak ku menginjakkan kaki di pulau Lombok dan menetap disana selama hampir 6 tahun dan akhirnya kembali ke bumi ibukota lagi, jari-jariku bak seorang jompo yang mencoba untuk berkompetisi adu lari seratus meter melawan seorang remaja (ting-ting).

Tapi it's fun... semua itu ternyata meremajakan jiwa yang selama ini terlalu nyaman dinina-bobokan. Oh iya, ada juga terpikirkan hari ini untuk serius memulai untuk detoksifikasi dengan menjadi vegetarian temporer, hal itu berawal dari saat akan berangkat ke kampus di pagi hari, iseng membuka kulkas kutemukan buah belimbing titipan nenek (kangen juga ketemu dia), seketika terbesit tanya "kapan terakhir ku makan buah?" yang mana aku tak menemukan jawabnya, alias memang sudah lama sekali. Bahkan kalau mau dievaluasi pola menu makanku beberapa waktu terakhir ini, jarang ada unsur sayur didalamnya. Pantas saja tubuh ini rasanya jadi berat, maka kuputuskan tekad (ya.. ini baru tekad) untuk menjadi vegetarian temporer, yang mana hari ini pun aku telah gagal untuk menjadinya (karena tadi siang makan ikan). Hmm.. Sebuah hari yang cukup menarik bagiku, entah mengapa walaupun secara obyektif ga beda dengan hari-hari sebelumnya.

Aneh. Tapi tulisan ini harus diakhiri karena aku harus membangunkan si Dia yang ada disana.

"cinta memerlukan hati yang luas untuk menampungnya, bersegeralah.. namun bersabarlah terhadap prosesnya"

Minggu, 30 Oktober 2011

Cerita kemacetan Jakarta yang tidak pernah bosan untuk diceritakan

Melintasi Jakarta pada pukul 9 pagi atau 6 sore? Tidak terima kasih. Jika anda termasuk orang yang masih ingin menjaga tingkat kewarasan anda berada di titik normal, anda pasti akan memberikan jawaban yang sama dengan saya. Seiring dengan semakin bertambahnya jumlah kendaraan bermotor, baik itu roda empat maupun roda dua, di Jakarta dengan tingkat yang bisa disebut mengkhawatirkan, jalan di Jakarta pun semakin kasat mata tidak mampu untuk menampung para penggunanya setiap harinya. Adapun usaha untuk menambah jalan baik itu dengan melebarkan, menjembatankan, mendalamtanahkan, atau apapun itu. Proses menuju kesananya (pembangunannya) pun serasa menjadi neraka bagi mereka yang tengah berada di sekelilingnya. Bukan tak mungkin, saat jalanan baru itu mulai dioperasikan, keadaan sudah terlanjut akut stadium 4 karena laju pertambahan kendaraan bermotor yang menggila selama proses pembangunannya. Sehingga kehadirannya menjadi sesuatu yang tidak solutif. Sehingga sebetulnya, semua orang juga sudah tahu bahwa akar permasalahan terletak bukan pada luasnya jalan namun pada pertambahan kendaraan bermotor yang tidak terkendali. Sejauh ini belum ada terdengar adanya usaha dari Pemerintah Daerah untuk menekan angka pertumbuhan jumlah kendaraan bermotor. Alih-alih, sang ahlinya Jakarta hanya berkonsentrasi untuk menambah jumlah jalanan di Jakarta yang pada akhirnya proses tersebut hanya memperparah kemacetan di beberapa titik pembangunan, Jl. Prof. Dr. Satrio (jalan casablanca) adalah salah satunya, pembangunan proyek ambisius untuk melayangkan Kampung Melayu - Tanah Abang sejauh ini telah menyulitkan para pengguna jalanan di sepanjang jalan tersebut. Mengingat jarak Kampung Melayu - Tanah Abang yang tidak bisa dibilang dekat, maka kemacetan di lokasi pembangunan ini akan berlangsung dalam waktu yang tidak sebentar. Sisi buruk lain dari usaha pemda ini adalah estetika atau keindahan lingkungan yang menjadi terganggu bukan hanya karena proses pembangunannya, namun karena kehadiran jalan baru yang dinilai dibangun secara serampangan itu membuat wajah Jakarta semakin semrawut gak karuan. Kalau sudah begini, kembali kita bertanya, kearah manakah pembangunan Jakarta ini mengarah sesungguhnya? Kita hanya bisa menunggu dengan sambil menahan nafas sesekali, dan berharap semoga Tuhan akan turun tangan menangani Jakarta.

Selasa, 25 Oktober 2011

Kopi susu Siang ini



Langit siang sedang gelap karena sedang turun hujan yang lumayan lebat, saat sedang sendiri didalam rumah. Aku menikmati suasana kesendirian ini, seperti biasa, aku pasti melarikan diri kepada kopi. Sudah beberapa kali kumenikmati diri membuatkan kopi bengkulu yang biasa dicampur susu kental manis untuk diri sendiri atau teman. namun untuk kali ini rasanya kopi bengkulu terlalu berat siang ini. Nescafe classic ku yang telah lama terbengkalai juga belum pernah dipadukan dengan susu kental manis. Dalam kesendirian, kuseduh air mendidih ke kopi instan dengan cita rasa keasam-asaman ini, 1 sendok teh, satu sendok teh gula pasir, dan susu kental manis secukupnya. Dalam kesendirian ini pula aku biasa mendapatkan diriku sendiri, memikirkan masa lalu, mencoba berdamai dengannya, dan menatap masa depan.



Banyak orang yang gagal melangkah hanya karena dia tidak bisa berdamai dengan kesalahannya di masa lalu. Dan banyak juga yang hancur karena dia terus-terusan melakukan kesalahan-kesalahan baru karena berjalan maju sambil menatap ke kebelakang. Masa lalu memang tempatnya jaya dan salah. Sangat menggoda untuk selalu dikenang, sangat nikmat untuk selalu dikorek. Begitu pula dengan kopi ini, dengan cita rasanya sendiri dia hadir dihadapanku, jujur. Tidak berusaha minta diterima, dan aku menerima dia dengan segala keasamannya. Toh habis juga pada akhirnya. Apapun itu, "Kesusahan macam apa yang bisa membunuh hati yang selalu berbahagia?" -Ariel-

Kamis, 13 Oktober 2011

Jum'at 14 oktober '11 pagi

Jum'at ini, walaupun terbangun dengan kondisi mental yang kurang oke, tetap gw paksakan diri menjalani rutinitas pagi. Sholat, minum air putih, sms dan mencoba telpon membangunkan istri tercinta dan yang pasti membereskan tempat tidur. Sebetulnya ada satu hal yang entah kenapa gw skip pada pagi - subuh ini, yaitu ngemil. Biasanya tujuan gw ngemil buat memanaskan mesin metabolisme gw untuk hari itu. selanjutnya, ngupi. Pagi ini kopi yg dipilih kapal api special mix. Harum nih kopi ini. tagline "secangkir semangat untuk Indonesia" mungkin ada benarnya. Mata melek, sekaligus seluruh indra dan gairah menyala pasca ngopi. Entah karena kopinya atau emang dikasih zat "doping" sama si kapal api. Selanjutnya memantau kabar dunia lewat dunia maya, namun gw membatasinya karena gw ga perlu informasi yang terlalu banyak, gw menset diri gw sendiri untuk ga tau semua tentang dunia. Mr.alwaysknoweverything is simply not me. Selanjutnya otak atik hp baru pemberian istri tercinta. hmm.. ternyata gw gaptek ya.. hahaha payah.. ya udah.. SELAMAT PAGI DUNIA.. SELAMAT BERAKTIFITAS